Kelemahan Dan Tantangan SIK
A. Kelemahan SIK
- SIK masih terfragmentasi (belum terintegrasi) dan dikelola berbagai pihak sehingga terdapat “pulau-pulau informasi”.
- Legislasi yang ada belum kuat untuk mendukung integrasi SIK.
- Tidak terdapatnya penanggung jawab khusus SIK (petugas SIK umumnya masih rangkap jabatan).
- Tenaga Pengelola SIK umumnya masih kurang diakui perannya, pengembangan karir tidak jelas dan belum ada jabatan fungsionalnya.
- Terbatasnya anggaran untuk teknologi informasi dan komunikasi khususnya untuk pemeliharaan.
- Indikator yang digunakan sering kurang menggambarkan “subjek” yang diwakili.
- Belum terbangunnya mekanisme aliran data kesehatan baik lintas program (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota) maupun lintas sektor.
- Masih lemahnya mekanisme monitoring, evaluasi dan audit SIK.
- Kualitas data masih bermasalah (tidak akurat, lengkap, tepat waktu)
- Penggunaan data/informasi oleh pengambil keputusan dan masyarakat masih sangat rendah
B. Tantangan SIK
Tantangan
otonomi daerah. Ini sebagai implementasi dari UU No. 2
tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang
perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Sehingga daerah punya
otoritas dalam menentukan arah kebijakan sendiri termasuk di dalamnya mengenai
arah kebijakan Sistem Informasi Kesehatan untuk kabupatennya.
Tantangan Globalisasi Banyak
ragam perangkat lunak SIK sehingga membingunkan unit operasional dalam
menginputnya. Juga membingunkan pihak pengambil kebijakan dalam menentukan
model sistem yang nantinya akan digunakan guna menghasilkan input, proses dan
output yang maksimal sesuai dengan kebutuhan yang ada.
Hasil
penelitian di NTB membuktikan bahwa : Puskesmas harus mengirim lebih dari 300
laporan dan ada 8 macam software
sehingga beban administrasi dan beban petugas terlalu tinggi. Hal ini
dianggap tidak efektif dan tidak efisien. Format pencatatan dan pelaporan masih
berbeda-beda dan belum standar secara nasional.
Komentar
Posting Komentar